cerita-pendekxxx - Pijat memang terbukti mampu meregangkan otot yang kaku dan menyegarkan tubuh. Makanya suamiku setiap malam minggu mendatangkan tukang pijat langgannya kerumahku. Namun setelah mengenal Pak Jono, semua menjadi berubah.
Tidak suamiku saja yang tambah segar
akan service Pak Jono, aku pun menuai kepuasan tiada tara dengan
kehadiran dia di rumahku. Hingga perselingkuhan itu pun terjadi. Berikut
cerita panas dari kisah pribadiku yang lebih lengkap.
Aku adalah seorang isteri dari seorang
karyawan swasta. Aku punya anak dua. Yang kedua kelas satu. Aku sering
nungguin anakku yang kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga.
Guru olah raga anakku bernama Pak Jono.
Ia suka sekali bercanda dan berhumor. Tubuhnya tinggi, kurang lebih 175
cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja
bercerai dengan isteri 4 bulan yang lalu. Jadi ia seorang duda. Selain
ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet
olehnya.
Ketika olah raga seperti biasanya ia
memakai celana training. Sambil menunggu anakku aku memperhatikan ia
yang sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aku
memperhatikan diantara selangkangannya aku lihat tonjolan yang memanjang
dan besar. Aku berkata dalam hatiku, wuh panjang dan besar sekali
barangnya.
Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra.
“Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!” kubilangi suamiku.
“Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!” kubilangi suamiku.
“Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malam-malam?”
“Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya.”
Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Jono.
“Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaku. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”
“Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sambil bercanda.
“Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya.”
Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Jono.
“Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaku. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”
“Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sambil bercanda.
Setelah suamiku pulang kantor sambil makan malam aku ceritakan padanya bahwa Pak Jono mau.
“Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.
“Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.
Sampai waktu yang ditentukan Pak Jono
datang ke rumahku. Ia ngobrol dengan suamiku sambil bercanda sehingga
baru saja kenal suamiku merasa akrab dengannya. Aku duduk di dekat
suamiku menemaninya. Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan
dekat ruang tamu.
Mulailah suamiku dipijet oleh Pak Jono
sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pak Jono banyak ngebanyol karena memang ia
hobi bercanda. Aku nonton TV sambil tiduran di sofa ruang tamu
ngedengerin obrolan Pak Jono dan suamiku.
Suamiku mulai bercerita agak serius dengan suara pelan-pelan.
“Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Jono bagaimana dengan isteri Anda?”
“Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai.”
“Wah, hebat kamu ini, Pak.”
“Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Jono bagaimana dengan isteri Anda?”
“Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai.”
“Wah, hebat kamu ini, Pak.”
Pak Jono yang biasanya suka bercanda mulai berbicara serius.
“Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa,” katanya pada suamiku.
“Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong,” kata suamiku.
“Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa,” katanya pada suamiku.
“Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong,” kata suamiku.
“Ada yang bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi,” kata Pak Jono berusaha meyakinkan.
“Pak Jono pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.
“Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya 4,5 inch,” jawab Pak Jono sambil tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”
“Pak Jono pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.
“Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya 4,5 inch,” jawab Pak Jono sambil tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”
“Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch.”
Mendengar obrolan suamiku dan Pak Jono aku berkata dalam hatiku.
“Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak Jono, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”
Mendengar obrolan suamiku dan Pak Jono aku berkata dalam hatiku.
“Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak Jono, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”
Aku jadi berkhayal, kalau seandainya…. Wah, nikmat sekali…
Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku.
“Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Jono?” tanyaku setelah Pak Jono pulang.
Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku.
“Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Jono?” tanyaku setelah Pak Jono pulang.
“Wah bagus sekali, lebih bagus daripada
langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak Jono saja. Saya
sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu.”
“Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali,” kata suamiku
“Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali,” kata suamiku
“Aku mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan.”
“Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”
Keesokan harinya saya ketemu Pak Jono. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku.
“Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”
Keesokan harinya saya ketemu Pak Jono. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku.
“Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dengan pijetan saya?” tanya Pak Jono padaku.
“Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”
“Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”
“Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”
“Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”
Setelah suamiku menawarkan untuk diurut
oleh Pak Jono, hatiku tidak karuan, membayangkan bermacam-macam,
bercampur takut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aku jarang
menemukan kepuasan dengan suami. Selain punya suamiku lemes, barang
kecil dan pendek dan tidak tahan lama.
Hampir-hampir setiap malam aku
membayangkan penis punya Pak Jono. Aku berkata dalam hati, barang Pak
Jono pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yang agak
hitam itu kuat, mana badannya tinggi, besar dan kekar. Pokoknya sangat
jantan. Kayak apa kalau badan yang besar itu menindiku dan memelukku
keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya
155 cm. Apa kuat aku ditindih badan raksasa itu.
Apa bisa masuk barang sebesar itu ke
lobangku yang kecil ini. Apa tidak mentok kesakitan bila barang yang
keras dan panjang ditekan ke lobangku dengan tenaga yang raksasa.
Pokoknya aku membayangkan antara takut dan ingin merasakan.
Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun.
Malam ini malam minggu, Pak Jono akan
datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian
Pak Jono datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa
aku mau juga dipijet malam minggu ini, dan suamiku minta tidak bercerita
macam-macam ke orang lain. Pak Jono menjawab, “Ya, tidak dong, Pak.”
Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam
23.00 suamiku selesai diurut. Sekarang giliran aku yang akan diurut. Aku
pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sambil nonton
TV.
Aku mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug.
Pak Jono mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang
betisku sambil mengurut pelan-pelan, aku merinding merasakan urutan Pak
Jono, karena sebelumnya aku membayangkan sesuatu yang nikmat.
Kini Pak Jono membisu seribu bahasa
tidak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati
pandangan terhadap betisku yang mulus. Maklum ia menduda 4 bulan.
Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak Jono meletakkan
kakiku ke pahanya.
Sambil mengurut ia maju sedikit-sedikit
sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa
kakiku menyentuh benjolan yang mulai mengeras. Dengan suara pelan dan
terpatah-patah Pak Jono bertanya.
“Paha ibu mau diurut?”
“Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aku pun menjawab dengan suara pelan.
“Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aku pun menjawab dengan suara pelan.
Pak Jono mulai menyingkap pelan-pelan
sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak Jono mengurut
pahaku sampai ke selangkanganku, aku merintih dengan suara pelan-pelan
takut kedengaran suamiku. Pak Jono pun terasa meningkat rangsangannya
terasa dari sentuhan tangannya yang kadang-kadang mengurut sambil
mengelus dan meremas pahaku apalagi ketika sampai di selangkanganku.
Semakin timbul sensasi yang luar biasa
ketika Pak Jono membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan
memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sambil
meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aku merintih
dengan suara pelan. Dan Pak Jono tahu kalau merangsang, aku juga tahu
kalau Pak jono juga merangsang.
Aku berkata dalam hatiku: sebelum aku
diurut dalam posisi terlentang, aku akan pamit sama Pak Jono untuk buang
air kecil sambil aku ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau
belum.
Ketika Pak Jono menyuruhku terlentang,
aku berkata kepadanya: “Aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air
kecil.” Ketika keluar kamar aku lihat suamiku tertidur pulas mungkin
karena lelah seharian dan habis diurut.
Di kamar mandi aku berkata dalam hati.
Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi
terlentang, pasti Pak Jono akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin
merangsang. Aku menginginkannya meraba vaginaku dan memasukkan jarinya
ke lobang vaginaku.
Setelah masuk ke kamar, aku bilang bahwa
suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataku Pak Jono semakin
bersemangat. Kini aku terlentang di hadapan Pak Jono. Dan Pak Jono tidak
was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aku
memenjamkan mata sambil menggigit bibirku.
Kini Pak Jono tidak memijat lagi tetapi
ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaku dengan gemesnya. Kini ia
melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir vaginaku, dan semakin
tidak tahan rasanya aku ingin memegang barangnya Pak Jono sambil
penasaran tapi malu. Pak Jono semakin berani menusukkan jarinya ke
lobang vaginaku yang sudah membasah dengan ledir.
Aku mulai memberanikan diri meraba
selangkangan Pak Jono. Dan Pak Jono membuka resleting celananya. Sambil
aku melirik ke selangkangannya, Pak Jono mengeluarkan rudalnya. Aku
terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman,
nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi
dari batangnya. Aku menggenggamnya tapi genggamanku tidak muat saking
besar.
Sambil mengelus-elusnya, aku bayangkan
kalau rudal yang kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku.
Apakah tidak robek lobang vaginaku dan jebol lobang rahimku. Sensasiku
semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan takut robek
dan jebol.
Pak Jono kini semakin ganas mengocok
lobang vaginaku dengan jarinya, dan aku sangat ingin ditindihi dan
disetubuhi tapi takut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku.
Sambil mengocok Pak Jono menciumi pipiku. Pelan-pelan ia lalu mengecup
bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aku pun terangsang
berat.
Kemudian ia memelukku dan menindihku
sambil berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan
rudalnya, tapi tidak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi.
“Aduh…” jeritku sambil menggigit bibirku tidak tahan.
Tekanan kedua kalinya ini tidak berhasil
memasukkan rudalnya ke lobang vaginaku. Kemudian ia menekan lagi dengan
tenaga yang super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku
mengegok. Pak Jono dan aku pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku
ke seluruh tubuh. Dan aku mengakhiri pijetan.
Kemudian aku membangunkan suamiku. Pak
Jono pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aku
mengajak suami masuk kamar, aku sudah tidak tahan. Barang suami juga
mengeras tidak seperti biasanya. Kini aku menyalurkan rangsanganku
dengan suami sambil membayangkan disetubuhi Pak Jono. Malam minggu itu
aku benar-benar merasakan puncak orgasme yang luar biasa tidak seperti
biasanya, juga suamiku.
“Ma… Malam ini tidak seperti biasanya.
Urutan Pak Jono memang luar biasa membuat kita benar-benar mencapai
puncak kenikmatan yang luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma…”
kata suamiku.
Hari-hari aku hidup dalam bayangan:
Kalau malam minggu depan suamiku tidak ada di rumah, aku akan menyiapkan
minyak pelumas agar dioleskan ke lobang vaginaku. Aku membayangkan
barang Pak Jono yang besar dimasukkan sambil melelukku, menyepokiku dan
menggenjotku. Membayangkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar
dimasukkan. Sambil rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang
rahimku jebol.
Kini malam minggu datang, hatiku
berdebar-debar membayangkan sesuatu yang besar dan panjang, membayangkan
lobang vaginaku membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang
besar. Pak Jono datang memakan pakaian yang serasi nampak sangat gagah
dan manis. Ketika suami ngobrol dengan Pak Jono telpon berdering.
Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.
“Ya nanti setelah dipijet,” jawab suamiku.
Malam minggu ini aku semakin yakin bahwa aku akan disetubuhi dengan Pak Jono.
“Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaku.
“Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas.”
“Tidak apa-apa pijet saja, Pak Jono orangnya baik, aku sudah percaya kok.”
“Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaku.
“Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas.”
“Tidak apa-apa pijet saja, Pak Jono orangnya baik, aku sudah percaya kok.”
Mendengar pernyataan suamiku, hatiku
girang karena sebentar lagi pasti aku disetubuhi oleh Pak Jono yang
berhari-hari aku membayangkannya.
Setelah suamiku selesai diurut ia mandi.
Dan Aku bilang pada Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu
kopinya. Aku mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota.” Setelah
suamiku menyiapkan semua yang akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak
Jono. Aku mengantarkan sampai pintu gerbang.
Begitu Bapak berangkat hujan turun
rintik-ritik. Aku masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak Jono, “Tunggu
dulu ya pak, aku pakaian dulu.” Aku memakai sarung dan kaos… dan sengaja
aku tidak memakai BH dan celana dalam.
Begitu aku keluar, sorotan mata Pak Jono
menatap payudaraku, aku tersenyum. Aku duduk di kursi sebentar. Aku
bayangkan bahwa Pak jono duda selama 4 bulan, berarti ia tidak
berhubungan selama 4 bulan. Aku yakin ia tidak jajan sembarangan. Aku
begitu yakin malam minggu ini aku akan digenjot berkali-kali dan
berjam-jam. Memang aku ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya.
Sekarang aku memilih kamar untuk urut di
bagian belakang, agar jeritanku yang keras nanti tidak terdengar oleh
siapapun. Aku mengajak Pak Jono ke kamar belakang, dan hujan turun cukup
deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tidak akan
terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yang mengganas,
dan bunyi lobang vaginaku yang digenjot oleh kepala rudal besar dan
tenaga yang super keras.
Kini aku beduaan yang sama mengharapkan
kepuasan seksual dengan sepuas-puasnya. Pak Jono membuka kain sarungku
dan tinggal kaos yang menutupi payudaraku. Ia meremas-remas pahaku. Aku
mengelinjang-gelinjang. Kemudian Pak Jono membuka celananya. Rudalnya
tegang, membesar dan memanjang.
Uratnya mengeras dan kepala rudalnya
membesar sekali. Ia menciumi pahaku terus ke bibir vaginaku. Aku sudah
tidak tahan karena mulai tadi sudah merangsang karena membayangkan
kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan.
Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami
berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00.
Ia meremas-remas tetekku sambil mengocokkan jarinya ke lobang vaginaku.
“Pak, masukkan… aku sudah tidak tahan.”
“Aku juga tidak tahan, aku sudah 4 bulan
tidak pernah berhubungan badan, aku ingin malam minggu ini benar-benar
puas, mungkin aku main sampai pagi,” timpal Pak Jono.
“Aku juga pak… Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Jono. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit.”
“Aku juga pak… Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Jono. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit.”
Aku siapkan parfum dan minyak pelumas yang harum.
“Bu… lobang Ibu kecil sekali,” katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dengan ludahnya.
Kini Pak Jono mengangkangkan pahaku
lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia
arahkan rudal besar dan panjang itu lobang vaginaku. Ia menekan, tapi
tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tidak juga
berhasil masuk, aku menjerit kesakitan.
“Pertama rasanya agak sakit, karena
lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tidak
ngimbang,” katanya merayuku.
Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku
dengan minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia
campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dengan
ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras
sekali. Ia menekannya dengan tenaga yang super keras, akhir masuklah
kepala rudal besar itu, dan aku pun menjerit kesakitan.
Ia terdiam, menahan sejenak, sambil menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaku.
“Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.”
Aku mengangguk.
“Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.”
Aku mengangguk.
“Tahan ya, Bu, aku akan tekan lagi agar masuk semua,” bisiknya lagi.
Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan.
“Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sambil menggigit bibir.
Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan.
“Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sambil menggigit bibir.
Akhirnya barang itu trot… bleees… masuk
semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih
dari rasa sakit ke rasa nikmat yang luar biasa.
“Pak .. rasanya nikmat sekali.”
Semakin ganaslah Pak Jono menggenjotnya.
Nyaring sekali bunyi lobang vaginaku akibat genjotan yang luar biasa.
Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aku menggigil,
meraung-raung kenikmatan.
“Aah… uuuh… uuh… aku… aku… mau mencapai puncak, Pak…”
Pak Jono menekan keras-keras. Aku pun
mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah kurasakan
sebelumnya. Pak Jono sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai
orgasme. Aku sudah lemas, tapi karena Pak Jono meremas-remas kembali
tetekku dan menjelati vaginaku, aku mulai merangsang lagi.
Pak Jono menyuruhku nungging. Ia
menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari
belakang, bunyinya semakin keras, ceprok… ceprok.. ceprok… sambil ia
mengelus-ngelus lobang anusku. Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan
ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku.
“Aduh… Pak!” jeritku.
Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat.
“Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”
Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat.
“Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”
Akhirnya Pak Jono menambahi minyak
pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari vaginaku, ia
oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku.
“Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”
“Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”
Kemudian menusukkan tepat ke lobang
anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret…
prot… ia tekan pelan-pelan hingga separuh penis itu. Ia mendorongku agar
aku tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa
separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus.
Sampai terasa ada cairan muncrat dari
dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aku
merasakan nikmat sambil menahan genjotan. Prot… prot… druuuuut. Semakin
ganas ia menggenjot sampai aku terkentut-kentut dibuatnya. Akhirnya Pak
Jono mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku.
Malam minggu itu aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku disetubuhi oleh Pak Jono sampai 4 kali hingga pagi.
Pak Jono guru olah raga yang humoris.
Setelah kejadian yang pertama itu aku masih sering ke sekolahan tapi aku
sering menghindar untuk ketemu Pak Jono karena malu dengan kejadian
yang kualami itu, kecuali banyak teman-teman.
Pada suatu ketika aku duduk berjauhan
dari tempat olah raga, tapi aku melihat Pak Jono memperhatikan aku dari
kejauhan, dan waktu itu kebetulan sepi tidak ada ibu-ibu yang lain. Pak
Jono memandangi aku, aduh .. aku rasanya malu, kemudian ia duduk di
sebelahku dan bertanya.
“Bagaimana, Bu… Masih terasa sakit dan nyelunya. Maafin aku ya, Bu..”
“Enggak kok udah enggak… Memang sehabis berhubungan badan dengan Pak Jono itu terasa lobang vaginaku terganjal oleh sesuatu sampai dua hari,” jawabku sambil tersenyum malu.
“Enggak kok udah enggak… Memang sehabis berhubungan badan dengan Pak Jono itu terasa lobang vaginaku terganjal oleh sesuatu sampai dua hari,” jawabku sambil tersenyum malu.
Pernah suatu malam aku diajak nonton film BF oleh suami, aku pura-pura menolaknya, tapi suamiku memaksa dengan merayuku.
“Bagus kok filmnya dan agar kita nanti lebih hangat lagi. Kebetulan film itu antara orang hitam dan wanita Jepang.”
Ketika melihat kemaluan orang hitam aku terbayang barang Pak Jono.
“Pa.. besar dan panjang sekali anunya… sampai perempuannya menggeliat-geliat, menggigit bibir, dan ngerinti-rintih, sakit kali ya, Pa ..” bisikku pada suamiku.
“Pa.. besar dan panjang sekali anunya… sampai perempuannya menggeliat-geliat, menggigit bibir, dan ngerinti-rintih, sakit kali ya, Pa ..” bisikku pada suamiku.
“Tidak justeru itu ia merasakan puncak kenikmatan.”
“Kalau punya Papa… seperti itu asyik ya, Ma ..” bisik suamiku.
“Ah, mana mungkin. Papa kan orangnya kecil dan pendek, sedangkan dia tinggi besar.”
Suamiku berbisik lagi sambil meraba barangku: “Mungkin punya Pak Jono seperti itu ya, Ma..”
“Enggak tahu ya, Pa.. Kok Papa bilang begitu?” jawabku dengan perasaan terangsang.
“Ya soalnya dia pernah cerita pada saya.”
“Apa ceritanya, Pa ..?”
“Kalau punya Papa… seperti itu asyik ya, Ma ..” bisik suamiku.
“Ah, mana mungkin. Papa kan orangnya kecil dan pendek, sedangkan dia tinggi besar.”
Suamiku berbisik lagi sambil meraba barangku: “Mungkin punya Pak Jono seperti itu ya, Ma..”
“Enggak tahu ya, Pa.. Kok Papa bilang begitu?” jawabku dengan perasaan terangsang.
“Ya soalnya dia pernah cerita pada saya.”
“Apa ceritanya, Pa ..?”
“Dia kalau berhubungan badan dengan
isterinya, sebelum ia cerai, isterinya sampai sambat-sambat. Padahal
isterinya juga tinggi besar, bagaimana kalau isterinya kecil seperti
kamu?”
“Papa… kok isterinya Pak Jono dibandingin ke Mama..” sambil kuremas barangnya dengan gemes.
“Papa… kok isterinya Pak Jono dibandingin ke Mama..” sambil kuremas barangnya dengan gemes.
“Orang hitam itu kuat dan ganas mainnya, lihat tu Ma..”
“Papa…” aku jadi merangsang suamiku.
“Papa…” aku jadi merangsang suamiku.
Kemudian filmnya dihentikan kami main dengan sangat hot sekali, tapi tidak se-hot waktu main dengan Pak Jono.
Besok harinya aku semakin ingin dipijet
lagi oleh Pak jono. Aku terbayang terus, setelah nonton adegan orang
hitam dengan perempuan Jepang di film itu. Malam minggu kurang tiga
hari. Pikiranku membayangkan apa yang akan terjadi pada malam minggu
nanti setelah aku dipijet oleh Pak Jono.
Aku masih terbayang ketika barang Pak
Jono yang besar, panjang dan keras itu mulai memasuki pintu kemaluanku.
Aku rasanya mau menjerit karena bercampur antara sangat nyilu dan nikmat
dan hangat.
Aku masih terbayang waktu ia mengecup
bibirku dengan gemes sambil mengayunkan barangnya ke lobang kenikmatanku
dengan diiringi bunyi ceplak.. ceplok.. srook…
Belum hilang dari bayanganku barang yang
kepala lebih dari batang bagian tengah dan pangkalnya itu ketika
dicabut dari lobang vaginaku berbunyi trooot.. ceplok… Apalagi waktu
barangnya dimasukkan lobang anusku yang awalnya terasa sakit lalu dengan
pandainya permainan Pak Jono rasa sakit itu rasa nikmat yang sulit
kubayangkan.
Kini tibalah malam minggu, malam yang
kunanti-nantikan. Suamiku, sebagaimana biasanya, mempersilakan Pak Jono
masuk. Sebelum memulai memijet, Pak Jono ngobrol dulu dengan suamiku.
Sementara itu aku membuatkan kopi untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian suamiku mulai diurut. Sedang enak-enaknya diurut, tiba-tiba ada telpon dari Bosnya. Aku pun memanggil suamiku.
Setelah berbicara di telepon beberapa
lama dengan bosnya, ia berkata padaku bahwa ia diajak ke luar kota untuk
urusan bisnis. Lalu ia memberiku uang agar diberikan ke Pak Jono nanti
setelah aku selesai diurut.
Dalam hati sebetulnya aku merasa sangat
terangsang. Pikiranku membayangkan bahwa aku dan Pak Jono sebentar lagi
akan melakukan sesuatu yang kenikmatannya sulit aku bayangkan.
Setelah selesai diurut, suamiku mandi,
sementara aku mempersiapkan pakaian untuknya. Aku mengantarkan suamiku
sampai di pintu melepas keberangkatannya. Setelah itu aku menutup dan
mengunci pintu.
“Sebentar ya Pak, teruskan dulu minum kopinya, aku mau ganti baju,” kataku pada Pak Jono.
Aku memakai sarung dan kaos yang tipis,
tanpa memakai CD dan BH, karena aku membayangkan sebentar lagi aku akan
melakukan hubungan badan yang luar biasa.
“Gaya apa saja malam minggu ini yang
akan dilakukan oleh Pak Jono terhadapku?” tanyaku dalam hati sambil
berganti pakaian. Kusemprotkan parfum yang istimewa ke tubuhku.
Aku keluar dari kamar utamaku kemudian
duduk dulu di ruang tamu bersama Pak Jono. Pak Jono tersenyum. Aku pun
membalas senyumannya dengan memberi isyarat yang ia pahami maksudnya.
Kemudian Pak Jono mengajakku ke kamar
tempat urut biasanya. Sepertinya Pak Jono sudah tidak sabar lagi. Aku
mulai tengkurep. Pak Jono tidak mengurutku seperti biasanya karena
nafsunya yang sudah sangat menggelora.
Ia menyingkap sarungku sampai ke
panggulku. Ia mengelus-elus pahaku dan meremas-remas pinggulku. Ia ciumi
pahaku dan pinggulku. Aku kini sudah tak berdaya karena lama aku
menyimpan nafsu birahi.
“Pak .. malam ini aku ingin benar-benar
puas, seperti puasnya perempuan Jepang yang digauli oleh orang hitam di
dalam film BF,” rintihku.
Pak Jono dengan nafsu yang menyala-nyala dan ganas bertanya kepadaku.
“Ibu nonton film BF? Bagaimana ceritanya?”
Pak Jono dengan nafsu yang menyala-nyala dan ganas bertanya kepadaku.
“Ibu nonton film BF? Bagaimana ceritanya?”
“Laki-lakinya seperti Pak Jono,
barangnya sangat besar dan panjang. Ia dengan ganasnya mengocok
perempuan Jepang sampai berkali-kali. Ia merintih-rintih, lalu ia
tergeletak lemas dengan memperoleh kepuasan yang luar biasa. Pak Jono..
Aku juga malam minggu ini ingin seperti perempuan Jepang itu.”
Kemudian Pak Jono membalikkan tubuhku.
Kini aku terlentang, dan Pak Jono dengan mudah membuka sarung. Memang
aku sebelumnya tidak memakai CD. Ia mengangkangkan kedua kakikuku, lalu
ia menciumi kemaluanku sambil meludahi lobangnya dan meremas-remas
payudaraku. Kini aku tak kuasa lagi menahan nafsuku, rasanya ingin
meledak.
Pak Jono membuka baju kaosnya dan celana
dan CD-nya. Barang Pak Jono luar biasa tegak dan keras, besar dan
panjang. Kemudian ia membuka kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat
dengan sinar yang cukup terang. Sehingga nampak jelas urat-urat kemaluan
Pak Jono yang siap menerjang lobang kemaluanku.
Pak Jono merebahkan tubuhnya kemudian
memelukku dengan gemes dan mengecup bibirku sambil menggigit-gigitnya,
sementara penisnya dijepitkan ke antara kedua pahaku. Terasa hangat di
pangkal kedua pahaku sambil barangnya bergerak-gerak. Kini Pak Jono
sudah tidak sabar lagi, akupun juga. Pak Jono menindihku.
“Aduh… Pak… berat sekali badan Bapak,” kataku terengah-engah di bawah himpitan tubuhnya.
Pak Jono mengangkangkan pahaku seperti
V. Ia meludahi lobangku dan barangnya agar licin dimasukkannya. Begitu
banyak Pak Jono meludahi lobangku sampai meleleh ke pintu lobang anusku.
Pak Jono mengarahkan barangnya yang
sangat besar, panjang dan keras itu ke lobang vaginaku yang kecil tapi
montok. Ia menekannya tapi pertama dan kedua kali tidak berhasil Masuk.
“Aduh.. Pak.. Pelan-pelan, Pak,” jeritku.
“Katanya ingin puas ngerasain keganasan barangku?” Pak Jono berbisik dengan suara terengah-engah.
“Nanti, Pak.. kalau sudah masuk semua. Sekarang pelan-pelan dulu.”
“Katanya ingin puas ngerasain keganasan barangku?” Pak Jono berbisik dengan suara terengah-engah.
“Nanti, Pak.. kalau sudah masuk semua. Sekarang pelan-pelan dulu.”
Ketika ia menekan kembali, akhirnya
penisnya berhasil menerobos lobang kenikmatanku. Croook… Trooot… Bleees…
Kemudian ia menindihiku. Kini tubuh tinggi, besar dan kekar itu
menindihi diriku yang kecil mungil. Ia mulai menggenjotku.
Mula-mula ia mengayunkan pinggulnya
pelan-pelan. Makin lama makin keras dan ganas, sambil menekan. Ketika ia
dengan ganasnya menekan penisnya sampai rasanya nyelu dan ngenyut,
sambil memelukku dengan gemes dan ganas.
“Aduh.. Pak!” aku berteriak kecil.
Ia terus menggenjotku dengan tenaga yang
kuat dan kerasa sampai aku terkentut karena menahan genjotannya. Memang
nikmat sekali, nikmat yang luar biasa. Kemudian aku menggelinjang
sambil merintih dan menjerit. Sroot… Aku memcapai puncak kenikmatan. Dan
Pak Jono kuat sekali, ia belum juga orgasme.
“Udah dulu, Pak…” kataku dengan suaraku terengah-engah.
“Ibu tengkurep. Aku ingin masuk ke lobang belakang. Aku akan keluarkan spermaku di lobang belakangmu,” bisiknya padaku.
“Ibu tengkurep. Aku ingin masuk ke lobang belakang. Aku akan keluarkan spermaku di lobang belakangmu,” bisiknya padaku.
Aku mulai tengkurep, dan Pak Jono mulai
menindihku. Ia meludahi lobang anusku sambil menusukkan jarinya. Aduh
rasanya… Kemudian ia menusukkan rudalnya ke lobang anusku. Setelah empat
kali tekan baru bisa masuk.
Ia menggenjot dengan ganasnya. Makin
lama makin keras kocokan dan genjotannya, lalu muncratlah air hangat ke
dalam lobang anusku. Aduh… nikmat lagi walaupun baru saja aku mencapai
orgasme.
Mari bergabung bersama kami di Togel Pelangi
BalasHapusKami Bandar Togel Terbaik dan terpecaya
mengajak anda bermain terbak angka
TOGEL
DD 48 RED BLUE LIVE
Info lebih lanjut silakan kunjugi CS kami...
Telp : +85581569708
BBM : D8E23B5C
Line : togelpelangi
Skype: Togel Pelangi
Link: http://www.togelpelangi.com/